Mlaku-mlaku nang Nggalek

28 02 2008

Bismillahirrohmaanirrohiim
Perjalanan ini sebenarnya sudah direncanakan sejak dulu kala, yaitu ketika mas Guntur berencana untuk mengadakan walimah nikahnya di kampungnya yang ndepis pinggiran kutho nGgalek , tepatnya di desa ngetal. Hanya saja, karena kawan-kawan ternyata banyak yang memiliki kepentingan pribadi atau golongan, dengan menyesal akhirnya kami terpecah menjadi dua kubu yaitu yang berangkat hari jumat dan satu lagi berangkat hari sabtu.(saya alhamdulillah termasuk yang berangkat Jumat)
Tim yang berangkat Jumat ini beranggotakan 6 orang yaitu Saya, mas Fitra, Mr. Albert, kang Jopi, kang Kuro, dan mas Yok (yang terakhir ini duduknya paling mencil walau satu gerbong). jam 14.00 waktu stasiun jatinegara, kami sudah berkumpul dan bersiap dengan perlengkapan dan amunisi seadanya. Sepuluh menit kemudian terdengar dari speaker stasiun bahwa kereta yang akan kami tumpangi sudah berangkat dari stasiun Pasar Senen, dan limabelas menit kemudian kami sudah duduk di kursi 15 ABCDE gerbong 1, kecuali mas Yok yang duduk terpisah.
Alasan kami memilih kereta ini sebenarnya simpel, murah meriah, mengingat harga kebutuhan pokok di negara ini semakin melangit, untuk itu kami juga harus ikut prihatin demi kelangsungan republik yang mengalami krisis teladan kepemimpinan ini, Cuma… karena kami yang sudah lama nggak naek kereta ekonomi (walau loko-ne CC 201), dan walaupun sugesti kami telah disetel untuk siap dalam kondisi apapun, ternyata tubuh kami mulai melakukan penolakan dengan mulai mengeluarkan keringat berlebih (untung sebelum berangkat dah mandi ). lambat laun oknum diantara kami yang katanya baru kali ini naek kereta Matarmaja ( sapa hayo?), merasa kapok dan cukup sekali ini naek kereta klas ekonomi dengan alasan nggak biasa (sok banget yo). Namun, dengan penuh perjuangan dan dibantu oleh hujan di tengah perjalanan yang mendinginkan suasana akhirnya kami bisa menjejakkan kaki kami di stasiun Tulungagung pukul 06.24 keesokan harinya. Sebenernya masih banyak cerita di dalam gerbong kereta (misalnya katanya kang kuro nemu kembaran dari flores di kereta), tapi karena penulis lebih banyak menjalani perjalanan dengan memejamkan mata tapi tak menutup telinga, jadi lebih baik tidak dituliskan untuk menghindari fitnah dunia . Kalau masih penasaran silakan hubungi yang bersangkutan.
Tulungagung….kotanya lumayan bersih dan asri euy! dan kenapa kami harus ke tulungagung terlebih dulu sebelum ke trenggalek….itu dikarenakan sang akomodator kami, mas fitra, katanya tinggal disini (padahal setelah dikonfirmasi ternyata rumah mas fitra termasuk daerah trenggalek juga walupun juga pinggiran tak begitu jauh dari rumah bung Guntur) selain juga karena di trenggalek nggak ada stasiun
Rumah akomodator kami ini walau agak jauh dari kota tapi view nya emang cakep. didepan rumah kita bisa memandang hijau sawah yang luas dan di background nya ada penampakan perbukitan di bawah langit biru (tapi nggak tau kalo pas musim kering). Di rumah inilah kami melepas lelah sebelum berangkat ke tempat walimah bung guntur dengan camilan seadanya (kata ibunya mas fitra) berupa sebaskom rambutan yang manis, dua toples kacang oven, sepiring jajanan yang kami nggak tau namanya yang terbuat dari bahan dasar ketan, ditambah makan menjelang berangkat dan segelas teh manis (padahal sebelum sampai di rumah akomodator, kami diajak mampir ke warung pecel).
Finally, akhirnya, setelah semua siap menjalani kehidupan berikutnya (eits…), pokoke setelah semua dah mandi dan berdandan rapi dan wangi… kamipun berangkat tak lupa pamit terlebih dahulu kepada ahlulbait(tuan rumah) karena setelah inipun kami harus meneruskan perjalanan panjang. Dari rumah mas fitra naek mobil, di tengah perjalanan kami juga diberitahu rumah bung guntur yang akan dijadikan tempat walimah untuk hari minggu. Nah, sampai juga di gedung walimah bung guntur, katanya acara dimulai jam 12, dan sekarang baru jam 11.40 alias kami datang lebih awal. Tapi nggak pa pa, karena panitanya ternyata sudah siap termasuk pengantinnya yang duduk berdua berdampingan, saling melontar senyuman bahagia, dan dibalut dengan busana jawa berwarna merah.
Diiringi hiburan berupa organ tunggal campursari modern, kami memberi selamat kepada sang pengantin, tak lupa berfoto bersama dihiasi kembang api “air mancur”, dan selanjutnya klise, makan, santai, ngobrol, walaupun kami tak sempat ngobrol banyak dengan bung guntur dan istri karena kondisi mereka yang sibuk menerima tamu, tapi kami maklum dan ikhlas (kesanne melas yo)
Akhirnya karena waktu pulalah yang memisahkan kita, plus karena kami juga masih banyak kepentingan…kamipun berpamitan dan diluar gedung kami satu tim juga saling berpamitan karena akan menempuh jalur perjalanan yang berbeda.Mas fitra pulang ke home sweet home, Mr Albert dan kang kuro ke surabaya ( padahal rumah mereka bukan disana, barangkali ke rumah ke dua), mas Yok ikut kerumah mas fitra karena harus menunggu sang Dewi yang sudah “dipaksa” naek bus jurusan jombang-tulungagung (kacian deh gue), dan Saya n kang jopi diantar mas fitra ke terminal trenggalek untuk meneruskan perjalanan ke Ngawi dan Solo
Btw, terminal trenggalek siang itu sepi, penumpang aja jarang jarang…liat aja:

galek
tapi gak pa pa……….karena kami pun juga senang perjalanan ini tiada hambatan yang berarti
alhamdulillahirobbil’aalamiin


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar